Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!
Sebuah
pernyataan mengejutkan dan sarat muatan politis dilontarkan Ketua Umum
Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto,
Bahlil secara blak-blakan menyatakan bahwa kekuasaan tidak bisa
didapatkan hanya dengan menunggu, melainkan harus direbut.
Pernyataan
"panas" tersebut disampaikan Bahlil saat memberikan sambutan dalam
pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI XVIII yang digelar di Bandar
Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.
Awalnya,
Bahlil menceritakan kilas balik perjalanan karier organisasinya di
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) saat menyapa satu-persatu
mantan ketum HIPMI. Ia mengisahkan bagaimana dirinya harus merangkak
dari bawah dan bahkan sempat merasakan "disiksa" secara jabatan.
"Ada
Pak Erwin Aksa, waktu beliau jadi Ketua Umum BPP HIPMI, saya
pengurusnya, tapi saya disiksa juga dari jabatan," ujar Bahlil di
hadapan Presiden Prabowo dan kader HIPMI.
Ia
melanjutkan, setelah menyelesaikan masa kepengurusan di Papua, ia masuk
ke kepengurusan pusat (BPP HIPMI) dari pangkat yang paling rendah di
tingkat departemen, sebelum akhirnya naik ke tingkat kompartemen.
Kariernya
baru mulai mendaki signifikan saat dipromosikan oleh Raja Sapta
Oktohari yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI.
"Begitu Pak Okto jadi ketua umum, baru saya punya pangkat dinaikkan menjadi ketua bidang infrastruktur," kenangnya.
Namun,
titik balik cara pandang Bahlil terhadap politik kekuasaan terjadi
setelah masa jabatan Raja Sapta Oktohari berakhir. Ogah menunggu terlalu
lama untuk diberikan kesempatan, Bahlil memilih jalur konfrontatif demi
mengincar kursi nomor satu di HIPMI.
"Begitu
Ketum Okto selesai, saya rebut kekuasaan jadi ketua umum. Karena kalau
nunggu diberi terus, Pak, lama banget gitu loh," seloroh Bahlil sambil
menatap hadirin di hadapannya.
Di
sinilah Bahlil melontarkan kalimat kunci yang langsung menyita
perhatian, termasuk di barisan kursi undangan utama tempat Presiden
Prabowo duduk. Menurutnya, dinamika perebutan kursi ketum HIPMI kala itu
menyadarkannya tentang hakikat kekuasaan.
"Ternyata
kekuasaan ini enggak bisa nunggu, harus rebut gitu! Jadi saya setelah
Pak Okto, baru saya jadi ketua umum," tegas Bahlil disambut tepuk
tangan.
Pernyataan Bahlil ini seolah menjadi kode keras mengenai realitas politik kekinian di tanah air.
Bahlil belakangan memang mulai dimunculkan sebagai kandidat calon di Pilpres 2029 mendatang.
Pengamat
intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melihat gelagat ini dari ramainya
fenomena lagu "Mas Bahlil Ganteng (MBG)". Kemunculan lagu ini dinilai
sebagai bagian dari proses pembentukan citra politik jangka panjang yang
dapat meningkatkan popularitas Bahlil menjelang kontestasi politik
2029.
Menurut
Amir, meningkatnya eksposur Bahlil di ruang digital, terutama melalui
konten yang mudah diterima generasi muda, dapat menjadi modal politik
signifikan bagi Golkar dalam menghadapi Pemilu 2029.
“Semakin
populer dengan lagu MBG atau Mas Bahlil Ganteng, semakin besar peluang
Bahlil menjadi figur nasional yang diperhitungkan. Dalam skenario
tertentu, Bahlil bisa saja maju sebagai calon presiden pada 2029
menghadapi Prabowo Subianto,” kata Amir, dikutip Rabu 10 Juni 2026.
Sumber: rmol
Foto:
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia saat berpidato di pembukaan
Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI XVIII di Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.
(Foto: Setpres)
Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!
Reviewed by Admin Akal Sehat
on
Rating:
Reviewed by Admin Akal Sehat
on
Rating:
